Metronet Blog

Just another WordPress.com weblog

Pengungsi Merapi Mulai Alami Beban Psikologis


Pengungsi Merapi Dihibur Campursari

Jakarta – Derita pengungsi bencana Gunung Merapi kian berat. Empat hari sejak terjadinya erupsi terbesar gunung di perbatasan Jawa Tengah-Yogyakarta itu, mereka mulai mengalami beban psikologis.

“Memasuki hari keempat pasca erupsi terbesar Merapi pada Jumat (5/11) dini hari lalu, para pengungsi mulai mengalami beban psikologis. Seperti yang terjadi di posko pengungsian Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta,” kata Koordinator Tim Medis Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Dodi Hendro Susilo kepada detikcom, Selasa (9/11/2010).

Menurut Dodi, dari sekitar 200 pasien yang ditangani oleh tim medis BSMI di posko kesehatan di lokasi tersebut, minimal ada tiga pengungsi yang masuk dalam kategori mengalami beban psikologis setiap harinya. Indikasi itu terdeteksi saat mereka mendatangi posko untuk berobat.

“Setelah pasien melaporkan keluhan yang dirasakan, seperti malas makan, susah tidur, jantung berdegup kencang, dan susah BAB, dokter mengindikasi bahwa pasien tersebut memiliki beban psikologis,” ujarnya.

Dodi mengungkapkan, dalam kondisi pengungsi yang demikian, dokter memberikan penenang. Pengungsi yang mengalami beban psikologis sudah terlihat sejak dua hari pasca evakuasi ke Stadion Maguwoharjo.

“Kami juga pernah didatangi seorang pengungsi ibu-ibu yang mencari anaknya karena terpisah saat dievakuasi dalam keadaan linglung. Beberapa saat kemudian ibu tersebut pingsan. Saat sadar, hanya berteriak. Karena sudah parah, pengungsi tersebut dibawa ke posko psikologis. Ada juga anak-anak yang dalam keadaan cemas,” kata Dodi.

Selain di Stadion Maguwoharjo, sambungnya, BSMI juga membuka posko kesehatan di Balai Desa Caturharjo, SD Jetisharjo, Sanggrahan, dan Masjid Agung Sleman. BSMI juga melakukan mobile clinic di delapan titik posko pengungsian setiap harinya.

“Rencananya, dalam pekan ini BSMI akan membuka sekolah ceria bagi anak-anak pengungsi usia sekolah. Sebab, selama mengungsi mereka tidak sekolah. Selain itu, program ini juga sekaligus sebagai trauma healing untuk anak-anak dengan terapi bermain,” jelas Ketua BSMI Yogyakarta, Bambang Edi S.
(irw/fiq)

November 9, 2010 - Posted by | Berita

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: